Sabtu, 13 Februari 2010

Sherlock Holmes

Oke..Oke..mungkin review tentang film lejad ini agak terlambat. Sudah sejak muncul di Bandung, saya mengincar film ini di bioskop langganan. Tapi tunggu punya tunggu kok tidak turun-turun ya? Shit! Saya tertinggal momen. Tapi peduli amat, film bagus (iya film bagus!) tidak akan pernah basi untuk dibahas. Tapi berhubung film ini sudah dikuliti oleh banyak media. Dan saya banyak setuju pada mereka yang memuja-muji Guy, Downey atau Jude…atau ketagihan senyum Rachel Mc Adams.Saya setuju, bahwa film ini layak mendapat empat bintang.

Tokoh Holmes adalah tokoh rekaan Arthur Conan DOyle. Detektif yang sering dicitrakan akan jaket dengan leher yang ditinggikan. Topi dan cangklong, tak lupa kaca pembesar. Begitu dan begitu yang ada di kepala kita acap kali membicarakan Holmes. Bahkan dalam serial komik Detektif Conan sekalipun, kovernya tetap memuat Holmes yang stereotif itu. Seperti James Bond, Holmes adalah sosok inggris yang elegan dan kalem. Tapi Holmes di tangan Guy Ritchie (Lock Stock and Smoking Barrel, Babel) berubah wujud.

Menyerahkan peran pada Robert DOwney Jr menjadikan ramuan Ritchie lebih edan lagi. Sosok liar, pintar, sembarangan, dan jorok kini menjadi wajah Holmes 2.0. Begitupula Dr.Watson, partner sejati Holmes yang kini diperankan oleh Jude Law. Watson yang sering digambarkan sebagai dokter kolot, menjadi jauh lebih pas di tangan Jude. Cerdas, Tampan, namun juga grogi.

Secara garis besar film ini menceritakan tentang upaya Holmes dan Watson membongkar keganjilan atas matinya sekian banyak orang penting di London. Tertuduh adalah Lord Blackwood. Tapi dia tertangkap dan dihukum gantung. Mati. Selesai? Tidak. Blackwood menghilang dari peti mati. Dan London kembali terancam dengan kehadiran pembunuh yang diyakini memiliki ilmu hitam tersebut. HOlmes dan Watson berjibaku memecahkan teka-teki. Makin rumit ketika Irene Adler (Rachel) ternyata ikut terlibat dalam keruwetan kasus-kasus ini.


Ini proyek besar Ritchie. Maka, film ini dibuat dengan tidak serba nanggung. Set London kuno dibangun dengan sangat banal dan pas. Tone abu-abu gelap mendominasi layar, menjadikan nuansa vintage lebih terasa. Duo Downey dan Jude begitu lekat. Sepertinya chemistry mereka terbentuk dan akan melegenda dalam peran ini.Actionnya tidak murahan. Dan terpenting yang menarik adalah kecerdasan Holmes dalam mengungkap sesuatu sangat-sangat brilian. Sosok Flamboyan Downey makin teruji dalam Holmes. Satu langkah lagi, dia akan menjadi Next Al-Pacino saya kira (dalam urusan flamboyannya ya).

Patut ditunggu sekuel Holmes selanjutnya. Setelah Bond disegarkan oleh Daniel Craig, kini saya punya jagoan baru, Sherlock Holmes.


Sumber : http://bioskop-kecil.web.id/category/review/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar