Jumat, 26 Maret 2010

Gus Fakih

Disela-sela kesibukannya beliau masih menyempatkan FB-an... dasar memang orang gaul. Mau kaya miskin dasarnya gaul ya tetep gaul...

Sabtu, 13 Februari 2010

A Perfect Getaway

Cydney (Milla Jovovich) dan Cliff (Steve Zahn) adalah pasangan baru menikah. Mereka berencana berbulan madu ke tempat eksotika di Hawai. Di perjalanan mereka bertemu dengan Cleo dan Kale. Pasangan yang mencurigakan,Cleo meminta tumpangan pada Cliff dan Cyd, tapi Kale sepertinya emoh saat melihat ekspresi Cliff yang tak rela. Kale dan Cleo juga pasangan baru. Tak jadi numpang, mereka melanjutkan perjalanan.

Di tengah suasana bulan madu, beredar kabar, ada pembunuh berantai yang korbannya selalu pasangan baru menikah.Mereka memiliki ciri mengoleksi gigi milik korban. Seram. Dan perjalanan pun berubah menjadi penuh kecurigaan dan ketidaknyamanan. Apalagi saat mereka bertemu dengan Nick dan Gina. Nick punya kemampuan beladiri, martial arts yang membuat kecurigaan Cliff muncul. Tapi sesungguhnya kecurigaan terbesar ada pada pasangan Cleo dan Kale.

Ada beberapa perilaku yang mencurigakan. Keadaan yang tak menentu ini dipersulit dengan medan hutan Hawai yang jauh dari pemukiman.Perjalanan dengan banyak flashback ini akhirnya terasa aman ketika akhirnya polisi menggeledah dan menangkap Cleo dan Kale. Bukti-bukti pembunuhan ada di dalam tas Kale. Beres?

Film ini disutradarai David Twothy yang banyak bermain dengan film-film action macam Riddick, Pitch Black,atau GI.Jane.Berusaha membuat alur yang penuh intensi, tapi ketegangan yang tercipta tidak begitu bisa dirasakan.Film ini memang menawarkan twist ending yang cukup menarik.Tapi jika tokoh pembunuh malah sudah bisa ditebak di pertengahan film? Apa jadinya? U′ve Decide.

Sumber :http://bioskop-kecil.web.id/a-perfect-getaway/



Sherlock Holmes

Oke..Oke..mungkin review tentang film lejad ini agak terlambat. Sudah sejak muncul di Bandung, saya mengincar film ini di bioskop langganan. Tapi tunggu punya tunggu kok tidak turun-turun ya? Shit! Saya tertinggal momen. Tapi peduli amat, film bagus (iya film bagus!) tidak akan pernah basi untuk dibahas. Tapi berhubung film ini sudah dikuliti oleh banyak media. Dan saya banyak setuju pada mereka yang memuja-muji Guy, Downey atau Jude…atau ketagihan senyum Rachel Mc Adams.Saya setuju, bahwa film ini layak mendapat empat bintang.

Tokoh Holmes adalah tokoh rekaan Arthur Conan DOyle. Detektif yang sering dicitrakan akan jaket dengan leher yang ditinggikan. Topi dan cangklong, tak lupa kaca pembesar. Begitu dan begitu yang ada di kepala kita acap kali membicarakan Holmes. Bahkan dalam serial komik Detektif Conan sekalipun, kovernya tetap memuat Holmes yang stereotif itu. Seperti James Bond, Holmes adalah sosok inggris yang elegan dan kalem. Tapi Holmes di tangan Guy Ritchie (Lock Stock and Smoking Barrel, Babel) berubah wujud.

Menyerahkan peran pada Robert DOwney Jr menjadikan ramuan Ritchie lebih edan lagi. Sosok liar, pintar, sembarangan, dan jorok kini menjadi wajah Holmes 2.0. Begitupula Dr.Watson, partner sejati Holmes yang kini diperankan oleh Jude Law. Watson yang sering digambarkan sebagai dokter kolot, menjadi jauh lebih pas di tangan Jude. Cerdas, Tampan, namun juga grogi.

Secara garis besar film ini menceritakan tentang upaya Holmes dan Watson membongkar keganjilan atas matinya sekian banyak orang penting di London. Tertuduh adalah Lord Blackwood. Tapi dia tertangkap dan dihukum gantung. Mati. Selesai? Tidak. Blackwood menghilang dari peti mati. Dan London kembali terancam dengan kehadiran pembunuh yang diyakini memiliki ilmu hitam tersebut. HOlmes dan Watson berjibaku memecahkan teka-teki. Makin rumit ketika Irene Adler (Rachel) ternyata ikut terlibat dalam keruwetan kasus-kasus ini.


Ini proyek besar Ritchie. Maka, film ini dibuat dengan tidak serba nanggung. Set London kuno dibangun dengan sangat banal dan pas. Tone abu-abu gelap mendominasi layar, menjadikan nuansa vintage lebih terasa. Duo Downey dan Jude begitu lekat. Sepertinya chemistry mereka terbentuk dan akan melegenda dalam peran ini.Actionnya tidak murahan. Dan terpenting yang menarik adalah kecerdasan Holmes dalam mengungkap sesuatu sangat-sangat brilian. Sosok Flamboyan Downey makin teruji dalam Holmes. Satu langkah lagi, dia akan menjadi Next Al-Pacino saya kira (dalam urusan flamboyannya ya).

Patut ditunggu sekuel Holmes selanjutnya. Setelah Bond disegarkan oleh Daniel Craig, kini saya punya jagoan baru, Sherlock Holmes.


Sumber : http://bioskop-kecil.web.id/category/review/

CATATAN HARI FILM NASIONAL


DAPAT dikatakan bahwa saat ini film Indonesia mulai bangkit dari tidur panjang. Sebagai bukti dari kebangkitan film kita adalah diselenggarakannya FFI pada beberapa tahun terakhir. Beberapa film nasional pun mulai disukai penonton seperti Kiamat Sudah Dekat, Naga Bonar Jadi Dua, Get Married, Eiffel I’m In Love, Jaelangkung, Suster Ngesot dan lain-lain. Lebih menarik lagi adalah fenomena yang terjadi pada triwulan pertama 2008, yakni dengan kesuksesan beberapa film menghadirkan jutaan penonton ke gedung bioskop. Sebagai contoh, film komedi Quickie Express dan Kawin Kontrak produksi Multivision Plus hingga Maret minggu ke-3 ditonton sejuta orang lebih.

Sementara film Ayat-ayat Cinta garapan sutradara muda asal Yogya Hanung Bramantyo hingga saat ini sudah ditonton 3 juta orang lebih. Padahal hingga sekarang pertunjukan tetap berlangsung. Malahan Wapres Jusuf Kalla, Menteri Keuangan, Menteri Pertanian dan pejabat tinggi lainnya ikut menyaksikan film tersebut. Bisa jadi mereka terpengaruh Presiden SBY yang menyukai film Kiamat Sudah Dekat dari Deddy Mizwar.

Bukan mustahil Ayat-ayat Cinta akan mendekati rekor penonton film-film dakwah Rhoma Irama maupun film-film Warkop DKI tahun 80-an. Hanya saja perlu diingat bahwa kalaulah yang jadi standar kebangkitan film nasional adalah film-film yang diedarkan melalui jalur formal dari gedung bioskop ke gedung bioskop seperti film Janji Joni, Brownies, Detik Terakhir, Kiamat Sudah Dekat, Naga Bonar Jadi Dua, Get Married, Eiffel I’m In Love, Jaelangkung, Suster Ngesot, Quickie Express, Kawin Kontrak, Ayat-ayat Cinta dan lain-lain, memang benar. Akan tetapi kalau yang jadi acuan kebangkitan film nasional juga film-film independen dan dokumenter yang peredarannya tidak lewat jalur non-formal, maka kebangkitan film nasional sudah berlangsung lebih dari 7 tahun yang lalu. Pada hari Film Nasional 2008 ini, penulis tidaklah untuk memperdebatkan jenis film-film mana yang jadi acuan kebangkitan film nasional.

Tetapi justru ingin menyampaikan berbagai alternatif pemikiran guna lebih menciptakan atmosfer yang kondusif bagi pertumbuhan film nasional di masa depan. Sebab dunia perfilman nasional dihantui empat masalah besar, yakni tema film yang tidak variatif, pajak produksi film yang cukup besar, tak ada standardisasi teknologi, dan ruwetnya birokrasi yang mengurusi film. Ketiga masalah ini kalau tidak diberi solusi mustahil kebangkitan film nasional yang mulai menggelegak ini dapat berjalan mulus. Agar film-film nasional kembali menemukan “jati dirinya” seperti masa puncak kejayaan tahun 70-80an, maka film-film yang diproduksi harus mencerminkan kekayaan tema cerita.

Selama tujuh tahun terakhir film nasional didominasi film-film horor semacam Kuntilanak, Jaelangkung, Gendruwo dan lain-lain, maupun film-film cinta remaja seperti Ada Apa dengan Cinta, Janji Joni, Eiffel I’m In Love, Get Married dan lain-lain. Para produser tidak berani berspekulasi dengan menghadirkan tema-tema baru seperti yang dilakukan Hanung Bramantyo dengan film relijius (Ayat-ayat Cinta) maupun Deddy Mizwar dengan tema komedi (Naga Bonar Jadi 2). Dari kasus kesuksesan Ayat-ayat Cinta dan Naga Bonar Jadi 2 dapat diambil kejelasan bahwa ternyata selera penonton dapat diarahkan pada tema-tema lain yang berbeda dengan mainstream. Jadi, selera penonton tidak harus diikuti terus. Dengan tema-tema film yang lebih variatif akan menyebabkan film-film nasional lebih beragam, kaya warna, tidak membosankan, dan yang lebih penting adalah akan mengundang rasa ingin tahu masyarakat untuk menonton film tersebut. Ayat-ayat Cinta dan Naga Bonar Jadi 2 setidaknya membuktikan hal tersebut. Untuk membangun industri perfilman yang kuat, diperlukan adanya rangsangan berupa keringanan pajak. Dalam kaitannya dengan pajak produksi, ada 10 proses yang dikenai pajak dalam pembuatan film, yaitu dari pita film, shooting, edit, pembuatan kopi, sulih suara, transfer optik, dan peredaran masing-masing dikenai PPN. Sedangkan untuk artis, sutradara dan kru produksi dikenai PPH. Masing-masing tahap dikenai pajak 5-30%. Pajak film Indonesia malah lebih mahal dari film impor. Karena itu tidak berlebihan apabila Deddy Mizwar (KRM, 16-3-2008) menuding tidak adil apabila film impor Spiderman seharga 50 juta dollar, maka satu copy film yang masuk Indonesia hanya dikenai pajak Rp 2.5 juta. Ironis bukan.

Mira Lesmana selaku produser Ada Apa Dengan Cinta mengakui dari Rp 24 miliar pendapatan film itu, Rp 4.5 miliar di antaranya disetorkan sebagai pajak. Kondisi semacam ini tidak kondusif bagi perkembangan film nasional untuk jangka panjang. Dalam kondisi film yang baru tumbuh idealnya pemerintah memberikan insentif keringanan pajak agar para produser bergairah memproduksi film. Bukan hanya itu. Mestinya produk-produk yang berkaitan dengan upaya pencerdasan dan pengembangan budaya bangsa seperti buku pelajaran, ilmu pengetahuan, film dan audio visual lain dibebaskan dari pajak. Untuk memberi iklim produksi film nasional yang baik mutlak diperlukan standardisasi teknologi. Pemerintah selayaknya mengembangkan pusat standardisasi teknologi audio-visual dengan bekerja sama dengan kalangan swasta. Sejak masa kejayaan film Indonesia dari tahun 70-80an hingga sekarang para sineas dan produser selalu memproses filmnya di laboratorium film yang ada di Hongkong dan Tokyo. Kejadian semacam ini tidak boleh terulang lagi. Adalah tugas pemerintah untuk membangun pusat standarisasi teknologi audio-visual. Dengan pusat standardisasi teknologi para sineas dan produser dapat menguji kualitas suara, gambar film dengan standar global. Sehingga kalau diikutkan dalam festival internasional karya film kita tidak kedodoran alias ketinggalan teknologi. Memang aneh, di tengah-tengah maraknya produksi film nasional, kebanyakan sineas masih memproses filmnya di laboratorium luar negeri. Ruwetnya birokrasi pemerintah yang mengurusi bidang perfilman secara tak langsung berperan menghambat perkembangan film Indonesia.

Di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata terdapat banyak bidang yang mengurusi film. Misalnya, ada Asdep Urusan Fasilitas dan Pengembangan Perfilman, Subbid Pengembangan Perfilman, Subbid Film Cerita dan Film non Cerita, Usaha Perfilman, Teknologi Perfilman, Komunitas Perfilman, Lembaga Film. Begitu banyak divisi di Depbudbar yang mengurusi film, tapi masyarakat tak pernah mendengar hasil aktivitas mereka. Kalau toh akhirnya pada kurun enam tahun terakhir (2002-2008) ada geliat baru dalam perfilman nasional dapat jadi bukan disebabkan aktivitas Depbudpar. Tetapi oleh kreativitas para sineas seperti Rudi Sudjarwo, Riri Reza, Hanung Bramantyo, Deddy Mizwar, Mira Lesmana, Nia Dinata, Arya Kusuma Dewa dll. Yang memang memiliki naluri kreativitas tinggi sekaligus jiwa entrepreneurship dalam membuat film. Dengan begitu banyaknya divisi yang mengurusi film seharusnya film Indonesia sudah maju pesat seperti di India, Jepang dan Korea Selatan. Kenyataannya tidak. Untuk itu, Depbudpar harus mereposisi perannya di bidang perfilman dari pola kerja yang berorientasi proyek ke sistem kerja berorientasi target dengan skala prioritas yang jelas. Mungkin terobosan paling menarik yang pernah dibuat Depbudpar adalah ketika tahun 2004 pernah menyelenggarakan sayembara penulisan skenario.

Dari sayembara itu, terpilih dua skenario, yakni “Panggung di Pinggir Kali” dan “Anne van Jogja” yang kemudian diproduksi menjadi film dengan biaya Rp 3.6 miliar. Program demikian seharusnya perlu dilembagakan setiap tahun dengan melibatkan kalangan lebih luas lagi. Akan tetapi hingga tahun 208 ini kita tak pernah tahu kemana film tersebut akan diputar. Sayembara tersebut pun tidak berkelanjutan. Jadi, sama juga bohong. Terobosan lain yang dilakukan Depbudpar adalah saat memfasilitasi para produser film yang tergabung dalam Persatuan Perusahaan Film Indonesia untuk mengikuti Hongkong International Film & TV market (FILMART) 17-20 Maret 2008 yang lalu. Melalui event FILMART Depbudpar berusaha mencarikan akses pasar luar negeri bagi film-film Indonesia. Tujuannya adalah supaya film-film nasional dapat menembus pasar luar negeri.

Langkah Depbudpar ini tentu saja cukup positif. Akan tetapi di samping memberikan peluang ekses pasar global, maka yang tak kalah penting Depbudpar juga harus menciptakan event-event di dalam negeri yang dapat merangsang perkembangan film nasional. Misalnya, menyederhanakan birokrasi yang mengurusi film di departemen itu, secara rutin, menyelenggarakan sayembara penulisan skenario, penghargaan film nasional terbaik (di luar FFI) dan sebagainya. Sutradara film kenamaan Garin Nugroho pernah mengatakan sejarah kebangkitan sinema di berbagai negara tidak dibangun oleh film box office dan estetika semat-mata maupun dibangun oleh kelompok yang seragam. Akhirnya, berbagai fakta yang ada menunjukkan bahwa sejarah sinema selalu mengarjarkan bahwa kebangkitan sinema dibangun oleh beberapa persyaratan pertumbuhan yang beragam. r-o/g (3007-2008) *) Drs Nur Sahid MHum, adalah Peminat Film Nasional dan Dosen Jur. Teater, FSP, ISI Yogyakarta.

sumber : Kedaulatan Rakyat

EDGE of DARKNESS

Sudah cukup lama saya menantikan aktor,produser, dan sekaligus sutradara gaek ini berperan sebagai aktor, mungkin dapat dikatakan “kangen″ akan Mel Gibson sebagai aktor daripada dia sebagai sutradara. Trailer film ini mulai membayang-banyangi saya dan berucap dalam hati “wah..dah lama enggak nih”, si gaek beraksi kembali.

Di Trailer kita melihat adegan awal Thomas Craven (Mel Gibson) sedang mencukur jenggot dan terdengar mesin penjawab telefon berdering dan muncul suara anaknya (Bojana Novakovic) dengan mengatakan,” Hi Dad…i’m gonna come home for few days, i love u…”. Namun faktanya dalam Film nya yang saya bela-belain nonton di XXI ini, ternyata hanya ada adegan cukur jenggot doang (itupun setelah anaknya mati) tanpa ada suara anaknya di mesin penjawab. Pada awal-awal film, Tom Craven langsung menjemput anaknya di stasiun kereta (mungkin juga bandara, saya lupa..hehehe). Saya berfikir apakah dari dari sononya sudah dipotong atau mungkin XXI yang mengurangi adegan tersebut. Maaf, belom bisa terjawab….!!! hehehe…

Film ini menceritakan tentang seorang Detektif tua (Mel Gibson) yang menelusuri penyebab kematian anaknya yang di tembak di depan rumahnya. Ternyata kematian anaknya ini disebabkan oleh conspirasi negara bagian, yang tidak ingin proyek pengembangan nuklir rahasia yang sedang berjalan itu di bongkar oleh anak nya Tom Craven ini, walau anaknya tersebut bekerja disana.

Scene by scene rasanya tidak ada yang membuat penonton menjadi terlalu antusias mengikuti alur cerita ini, karena pola cerita yang sangat sederhana dan unsur-unsur action yang sangat minim. Dan film ini gagal memancing adrenalin buat penonton. Dengan plot cerita yang biasa-biasa saja, dan sangat minim dengan adegan-adegan yang menegangkan, tentu saja penonton dibuat menghembuskan nafas turun dengan santai sambil menyeka muka dari kening sampai dagu dan terdiam sambil bertanya kapan akan berakhir film ini, karena muncul pemikiran tidak sabar untuk teh manis hangat yang menunggu untuk di minum di rumah. Dan dalam hati sambil berucap,” setidaknya kangen akan MG sudah terobati″.

Dan pemikiran untuk mengembalikan kepercayaan terhadap Martin Campbell yang merubah karakter James Bond menjadi acak-acakan dalam Casino Royal bbrp tahun lalu, ternyata memang tidak bisa ditolong lagi. Padahal MG terlihat mati-matian aktingnya dalam film Edge of Darkness ini, seperti ketika dia menerima kenyataan pahit akan kehilangan anaknya dan karakter ketika dia menelusuri siapa dalang dibalik drama pembunuhan tersebut. Bagi pecinta MG, jangan berharap film ini sebagus “Taken” nya Liam Neesson atau seperti film action Conspiracy Theory (1997), karena sangat jauh dari yang diharapkan. Tapi setidaknya, pemeran Lethal Weapon dan Braveheart (1995) ini selalu memberikan karakter yang terbaik bagi pecintanya. Bravo pour toi Gibson…..

Sumber http://bioskop-kecil.web.id/